sisi gelap budaya kerja jepang “過労死 (karoshi)”

 Mengenal sisi gelap budaya kerja jepang “過労死 (karoshi)”


sisi gelap budaya kerja jepang “過労死 (karoshi)”
       Credit:veectezy.com


Jepang dan Budaya Kerja yang Selalu Dikagumi


Kalau bicara soal Jepang, banyak orang langsung membayangkan negara yang disiplin, tepat waktu, dan punya etos kerja tinggi.


Saya sendiri termasuk orang yang sangat mengagumi kemajuan hidup dan teknologi mereka.


Sebagai seseorang yang sering mempelajari bisnis dan produktivitas, Jepang terlihat seperti contoh ideal bagaimana sebuah negara maju dibangun oleh orang-orang yang bekerja keras tanpa henti.


Dan memang, kerja keras adalah salah satu alasan kuat Jepang bisa berkembang begitu pesat. Bahkan dengan populasi yang tidak terlalu besar seperti china.


Tapi,, semakin saya mempelajari budaya kerja di sana, semakin saya sadar bahwa ada sisi lain yang jarang dibicarakan. Dan bahkan tidak banyak yang mengetahuinya.


Baca juga: jepang cuma mandi 1x sehari? Ini alasannya!


Sisi gelap budaya jepang yang jarang diketahui.


sisi gelap budaya kerja jepang “過労死 (karoshi)”

Di Jepang, Kelelahan Kadang Dianggap Membanggakan


Di banyak tempat, orang sibuk dianggap sudah biasa dan bahkan dianggap keren.


Semakin padat jadwal seseorang, semakin dianggap sukses.

Semakin jarang pulang, semakin terlihat berdedikasi.


Budaya seperti ini terasa sangat kuat di Jepang.


Karena itu, kita sering melihat orang tertidur di kereta, di bangku umum, bahkan saat bekerja. Dan menariknya, itu bukan pemandangan aneh di sana.


Itu terjadi Bukan karena mereka malas.

Tapi Justru sebaliknya.


Kelelahan yang berlebih adalah tanda bahwa seseorang sudah bekerja terlalu keras. Dan itu cukup dibanggakan di jepang.


Bayangkan rutinitas yang harus dijalani setiap hari:


  • Bangun pagi
  • Berdesakan di kereta
  • Masuk kantor sejak pagi
  • Lembur sampai malam
  • Pulang dengan kondisi hampir tumbang
  • Tidur hanya beberapa jam
  • Mengulang semuanya lagi besok


Dan siklus itu berlangsung terus-menerus setiap hari… itu semua sudah sangat biasa di jepang.



過労死  Karoshi: Ketika Kerja Berlebihan Bisa Membunuh


sisi gelap budaya kerja jepang “過労死 (karoshi)”

Karena kebiasaan kerja ekstrem inilah, sampai muncul istilah yang cukup mengerikan:


Karoshi 過労死  


Karoshi; yang berarti mati karena overworking, alias terlalu banyak bekerja.


Dan ini bukan sesuatu yang dilebihkan untuk mencari sensasi. Ini sungguh terjadi di jepang.


Pemerintah Jepang sendiri secara resmi mengakui semakin maraknya kasus kematian akibat overwork atau kerja berlebihan.


sisi gelap budaya kerja jepang “過労死 (karoshi)”
      Credit:pixabay.com

Biasanya korban akan mengalami:
  • Stroke
  • Serangan jantung
  • Gangguan mental berat
  • Depresi akibat tekanan kerja ekstrem


Dan yang membuat situasi ini lebih serius adalah fakta bahwa budaya tersebut sudah terbentuk selama puluhan tahun. Ini sudah bukan lagi disebut sebagai “trend” melainkan sebagai “budaya”. 

Tapi apa yang memicu mereka bekerja begitu keras? Di negara yang sangat maju, dan SDM yang tidak terlalu banyak, harusnya tidak sulit mencari pekerjaan yang normal.



Adanya Budaya “Tidak Enak Pulang Duluan”



Biasanya korban akan mengalami:

Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah budaya loyalitas di perusahaan Jepang.


Di banyak kantor di jepang, lembur dianggap sebagai bukti dedikasi yang kuat.


Bahkan ada kebiasaan tidak enak pulang sebelum atasan pulang.


Jadi walaupun pekerjaan sebenarnya sudah selesai, banyak karyawan tetap bertahan di kantor karena takut dianggap tidak sopan atau kurang loyal. Tekanan ini dapat memicu beban tambahan kepada para pekerja.


Sisi gelap ini tidak terjadi di hanya satu jenis pekerjaan, melainkan sudah menyebar ke berbagai jenis pekerjaan.


Budaya kerja ekstrem juga terjadi pada:


  • Guru
  • Dokter
  • Perawat
  • Supir
  • Pekerja pabrik
  • Bahkan industri anime Jepang


Industri anime sendiri sering mendapat kritik karena jam kerja yang sangat berat dan tekanan produksi yang tinggi. 

Dikejar deadline ataupun jam tayang… belum lagi adanya kritik dari penonton jika hasil tidak memuaskan. Ketatnya persaingan industri anime membuat mereka harus bekerja 2x lebih keras.


Namun Ironisnya, dunia menikmati hasil karya mereka, tetapi jarang melihat seberapa besar tekanan di balik proses pembuatannya.


Pemecahan masalah


Biasanya korban akan mengalami:


Karena masalah ini semakin serius, pemerintah Jepang akhirnya membuat aturan baru.


Salah satunya adalah pembatasan jam lembur.


Secara resmi, lembur dibatasi sekitar 45 jam per bulan.


Pemerintah Jepang juga menyebut bahwa ketika lembur sudah melewati sekitar 80 jam per bulan, risiko gangguan kesehatan akan meningkat drastis.

Dan adanya sanksi denda bagi perusahaan yang melanggar aturan jam kerja. 


Namun masalah utamanya bukan hanya aturan.


Masalah terbesar justru ada pada budaya.


Karena mengubah regulasi jauh lebih mudah daripada mengubah pola pikir masyarakat yang sudah terbentuk selama puluhan tahun.



Hidup Hanya untuk bekerja



Selama bertahun-tahun, banyak orang tumbuh dengan keyakinan seperti ini:


  • Kerja keras adalah kewajiban
  • Mengeluh berarti lemah
  • Usaha adalah Kesuksesan


Akibatnya, banyak orang mulai kehilangan kehidupan pribadinya.


Sulit punya waktu istirahat.

Sulit menjaga hubungan.

Dan Sulit membangun keluarga.


Dan sekarang Jepang menghadapi masalah sosial yang cukup serius:



Sebagian orang percaya budaya kerja ekstrem ikut menjadi salah satu penyebabnya.


Karena ketika hidup habis hanya untuk bekerja, seseorang perlahan kehilangan waktu untuk benar-benar menjalani hidup.



Generasi Muda Jepang Mulai Berubah


Biasanya korban akan mengalami:

Untungnya, Generasi muda Jepang sekarang mulai lebih terbuka terhadap konsep work-life balance.


Mereka mulai sadar dan mempertanyakan budaya kerja tanpa henti.

Mulai sadar bahwa produktivitas bukan satu-satunya tujuan hidup.


Walaupun begitu, budaya karoshi belum benar-benar hilang sampai hari ini.


Karena di Jepang, kerja keras bukan hanya sekadar soal pekerjaan.Tapi  sudah menjadi identitas.



Pelajaran yang Bisa Kita Ambil


Biasanya korban akan mengalami:
       Credit;pixabay

Saya rasa Jepang memberi pelajaran penting untuk seluruh dunia.


Kerja keras memang penting.


Tetapi ketika kerja keras mulai merusak kesehatan, hubungan, bahkan kehidupan seseorang, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Dan itu wajib dipertimbangkan.


       Lebih jelasnya tonton;


Kadang kita terlalu sibuk mengejar kesuksesan sampai lupa menikmati hidup itu sendiri.


Normalnya, kita bekerja agar bisa terus hidup.

Bukannya kita hidup agar bisa terus bekerja..


Kebahagiaan tidak harus datang dari materi. .

Menerima adalah jalan terbaik menuju kebahagiaan tanpa perlu membunuh diri sendiri.




Posting Komentar

0 Komentar