Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?

 “Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?”

      Ini Bukan propaganda politik, apalagi berita hoax. Ya.. Fenomena rumah kosong di Jepang, atau yang lebih dikenal dengan istilah akiya (空き家) bukan lagi rahasia. Dan bahkan telah menjadi sorotan dunia.

 

Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?

      di negara maju seperti Jepang, ternyata terdapat sekitar 9 juta rumah kosong yang terbengkalai tanpa penghuni. Angka ini setara dengan 14% dari total properti residensial di seluruh Jepang, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 30% dalam satu dekade ke depan. Dan Yang lebih mengejutkan, beberapa dari rumah-rumah ini bahkan ditawarkan secara gratis atau dengan harga yang murahnya di luar nalar. Ini menjadi bukti kuat betapa rendahnya tingkat populasi di negara maju jepang. 


Namun, di balik angka yang fantastis ini, kalian mungkin akan bertanya-tanya. Apakah ini bisa peluang emas bagi kita yang bermimpi punya aset di luar negeri, atau justru sebuah “bom waktu” finansial? Mari kita bedah lebih dalam agar kalian tidak salah tangkap.


Apa Itu Akiya?

Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?


Secara harfiah, akiya berarti rumah kosong. Fenomena ini mengacu pada properti residensial yang sudah tidak dihuni dan seringkali terbengkalai, ini banyak terjadi di daerah pedesaan Jepang. Jumlah akiya atau rumah kosong di jepang telah meningkat signifikan, yaitu mencapai rekor 9 juta unit pada Oktober 2023, naik 507.000 dari survei sebelumnya di tahun 2018. 


Lalu kenapa Banyak Rumah Kosong di Jepang?

Ada beberapa alasan atau faktor kompleks yang menyebabkan menjamurnya akiya di Jepang:


1. Penurunan Populasi dan meningkatnya jumlah Penuaan Penduduk

Jepang saat ini menghadapi krisis demografi yang serius. Ini sudah bukan kasus baru, dan entah kenapa kasus ini terus berlanjut selama beberapa tahun terakhir.  Tingkat kelahiran yang rendah dan populasi yang menua menyebabkan banyak rumah ditinggalkan setelah pemiliknya meninggal dunia. Generasi muda cenderung lebih memilih pindah ke kota-kota besar seperti Tokyo atau Osaka, dan meninggalkan rumah keluarga di pedesaan asal mereka kosong.

Baca juga; 

sisi gelap budaya jepang yang kalian harus tahu!

353 Ribu siswa jepang menolak sekolah! Ada apa?

Orang jepang cuma mandi 1x sehari?

2. Budaya “Rumah Baru” yang Kuat

   Ini sangat Berbeda dengan  Eropa atau di Amerika, di mana rumah tua seringkali dianggap memiliki nilai sejarah. Tapi di jepang malah sebaliknya, masyarakat Jepang memiliki pendapat kuat kalau Bangunan/rumah tua sering dianggap tidak menarik atau tidak memenuhi standar gempa bumi modern, sehingga nilai jualnya terus merosot drastis seiring berjalannya waktu. 


3. Pajak Properti yang Unik

      Berbeda dengan negara lain. Di Jepang, tanah kosong dikenakan pajak yang jauh lebih tinggi daripada tanah yang memiliki bangunan. Akibatnya, banyak pemilik lebih memilih membiarkan rumah tua mereka tetap berdiri meski rusak parah daripada merobohkannya.  Kerena mereka harus membayar pajak tanah yang berkali-kali lipat lebih mahal jika tanah mereka kosong. 


   Jika kita bandingkan dengan situasi di Indonesia, fenomena ini terasa sangat kontras. Di Indonesia, kita justru menghadapi masalah backlog perumahan atau kekurangan stok rumah yang mencapai jutaan unit, ini belum termasuk rumah-rumah yang hancur karena bencana alam ataupun musibah. Harga properti di kota-kota besar Indonesia terus meroket, membuat banyak generasi milenial dan Gen Z kesulitan memiliki rumah pertama.


     Di Indonesia, tanah dan rumah hampir selalu dianggap sebagai aset investasi yang nilainya akan terus naik (“properti tidak pernah turun”). Namun, di sebaliknya di Jepang. rumah (terutama di pedesaan) seringkali dianggap sebagai aset yang menyusut nilainya seiring berjalannya waktu (depreciating asset), mirip dengan mobil. Memiliki rumah di Jepang bukan sekadar memiliki aset, tapi juga memikul tanggung jawab pemeliharaan dan pajak yang ketat.


Akiya Bank: Solusi atau Jebakan?

Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?


     Karena menjamurnya rumah kosong di jepang. Secara khusus Pemerintah daerah di Jepang meluncurkan sistem “Akiya Bank”. Dengan tujuan untuk memasarkan rumah-rumah kosong yang sudah tidak lagi di huni di pedesaan jepang. Beberapa rumah bahkan ditawarkan seharga 0 yen alias gratis

Tapi eh tapi , sebelum kalian bergegas memesan tiket ke Jepang demi rumah gratis,ternyata  ada beberapa “biaya tersembunyi” yang harus kalian pahami:


1. Biaya Renovasi yang “Gila-gilaan”

     Buat kita, siapa sih yang nggak mau dikasih rumah gratis. Eits... tunggu dulu, kalian Jangan tertipu dengan harga beli  "nol" atau gratis. Karena ternyata Biaya renovasi rumah tua di Jepang bisa mencapai ¥2 juta hingga ¥20 juta JPY (sekitar Rp 200 juta hingga Rp 2 miliar). Ini Dengan perhitungan menggunakan standar tukang dan material di Jepang yang memang relatif mahal. biaya renovasi ini seringkali lebih tinggi daripada membangun sendiri rumah baru di pinggiran Jakarta.


2. Lokasi yang Sangat Terpencil

Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?


     Kebanyakan rumah gratis ini berada di desa-desa yang aksesnya sulit, jauh dari perkotaan,jauh dari stasiun kereta, dan bahkan mungkin tidak memiliki minimarket terdekat. Yang berarti kalian harus siap stok setiap saat, atau memilih berkebun sendiri untuk kebutuhan pangan sehari hari. Bagi kita yang terbiasa dengan kemudahan ojek online atau akses transportasi publik yang sudah terbilang cukup merata dimana-mana. Tinggal di plosok jepang mungkin lebih mirip seperti mengisolasi diri.


3. Pajak dan Aturan Baru 2024

Banyak Rumah Gratis di Jepang: Peluang Emas atau Jebakan?


     Mulai Desember 2023, rupanya pemerintah Jepang memperketat aturan melalui amandemen Vacant Houses Special Measures Act. Isi aturannya adalah "Rumah yang tidak terawat kini bisa dikenakan pajak hingga 6 kali lipat lebih tinggi jika dianggap membahayakan lingkungan". Dengan kata lain, jika Anda membeli rumah gratis tapi tidak merawatnya, dan dianggap membahayakan lingkungan, maka Anda justru akan “dipalak” oleh besarnya pajak yang tidak karuan.


Opini: Apakah Ini Layak untuk Orang Indonesia?

      Secara pribadi, saya melihat fenomena akiya ini sebagai peluang yang sangat spesifik. Bagi kalian yang memang punya uang banyak dan suka berlibur, dan memang mencintai budaya pedesaan Jepang, mungkin ini bisa jadi impian yang menjadi kenyataan, memiliki aset rumah di jepang. 


     Namun, bagi kebanyakan orang yang mencari keuntungan dari “investasi properti” dalam arti konvensional, akiya di pedesaan Jepang bukanlah jawabannya. Berbeda dengan negara kita yang memiliki anggapan kalau harga aset properti (terutama rumah) akan selalu naik. Di jepang Properti seperti ini sangat sulit disewakan dan lebih sulit lagi untuk dijual kembali. Jika tujuan Anda adalah mencari keuntungan finansial, membeli aset properti di negara berkembang seperti Indonesia masih jauh lebih menjanjikan daripada rumah gratis di pelosok Prefektur Nagano jepang.


Baca juga"Di jepang-daun posang lebih mahal dari buahnya!  

Kesimpulan

     Fenomena 9 juta rumah kosong di Jepang adalah pengingat bahwa dinamika ekonomi dan demografi bisa mengubah aset yang harusnya berharga tapi malah menjadi beban sosial. Di negara yang sangat maju seperti jepang, hidup mengikuti zaman berarti bermigrasi ke kota besar. Sehingga pedesaan yang sudah sepi menjadi lebih sepi dan beberapa dekade ke depan mungkin hanya akan tersisa rumah dan tanah kosong. Saya pribadi lebih menyukai daerah pedesaan indonesia, tidak sepi namun tidak pula berisik. Terlebih lagi dengan masyarakat kita yang tidak pernah lupa dengan kampung halaman mereka. Sekian saja info kali ini. Jangan lupa baca artikel lainnya.. terima kasih. 

Posting Komentar

0 Komentar